Andi adalah seorang salesman yang luar biasa “Jago” dalam menclosing penjualan. Setiap customer yang datang kepadanya selalu pada datang kembali kepadanya walau pada hari itu belum terjadi penjualan secara langsung. Dan ini terjadi terus menerus, ya memang ada beberapa yang lolos, tetapi sebagian besar berhasil membeli dengannya.
Pada satu ketika, Iwan rekan satu kerjanya penasaran. Pakai jimat apa dia, sehingga penjualannya bagus.
” Hi di, pha kabar bro?”
“woi bang Iwan…. baik bang…. baik”
“eh, gue minta resep donk dari elo…… gimana sih elo sebagai salesman bisa jualan banyak? kan kita belajar bareng, training bareng dan semua teknik penjualan elo, gue ngerti banget. Elo pakai jimat yah ….. hehehehe….. kasih tau ke gue, dukunnya dimana, nanti gue juga minta sama dia, jimatnya. “
Nana adalah Salesman (penjual) asuransi jiwa. Dia bekerja sebagai sales asuransi jiwa karena untuk mengisi waktu yang kosong. Dia sudah mengikuti sedemikian banyak training dari salah satu perusahaan asuransi terkemuka. Hanya dia merasa sering kali terbentur dengan sikap mental, attitude dan cara berbicara dengan customer. Apalagi bila customernya sudah “resistence dan reject” kepada dia. Dimana kuota target dia harus tercapai dalam waktu 6 bulan, karena bila tidak tercapai maka dia harus kembali menjadi ibu rumah tangga.
Suatu ketika dia datang kepada saya meminta bantuan bagaimana caranya untuk bisa berkomunikasi dengan baik dalam melakukan penjualan sebagai salesman dan mental dia. Setelah saya menggali, sebenarnya dia sudah mendapat tips dan trik bagaimana cara berkomunikasi yang benar.
Saya berpikir sebentar, sebenarnya apa yang salah dengan semua ilmu yang sudah dia dapatkan ditraining. Lalu saya terpikir satu metode yang menurut saya cukup menarik.
SUKSES ada POLA nya dan GAGAL pun ada POLA nya. Manusia hiduppun ada POLAnya. Ini saya sadari setelah saya mempelajari ilmu Neuro Linguistic Programming. Dimana dalam NLP ini ada suatu ilmu yang namanya Strategi.
Pada suatu ketika saya sedang melakukan in house training Salesmanship, saya melakukan demonstrasi didepan para peserta. Saya panggil peserta yang bisa dianggap sukses dalam penjualan barang door to door. Nama peserta tersebut sebut saja Eva. Dan saya segera meng-elicit atau bahasa kerennya mencacah strategi sukses dia.
“Eva, coba diceritakan pengalaman anda sukses menjual banyak satu hari itu dan apa yang anda lakukan ketika anda bangun pagi hingga anda mau berangkat menuju ke kantor”